PSMS Medan Sriwijaya FC PSM Makasar Persiwa Wamena Pelita Jaya Persipura Persita Persijap PKT Bontang Persela Persib Persik PSIS Deltras Persiba Persija Persitara Arema PSSB Persiraja Persisam Gresik United Persih PSAP PSIR PSPS Persikab Persigo PSP Persikad Persiba Bantul PSS Persekabpas Persibom Persikota Semen Padang Mitra Kukar Persibo Persikabo PSIM Persis Perseman Persiku Persema Persebaya
Persebaya

Senin, September 01, 2008

(0) Comments

Apa pun Caranya, Yang Penting Juara

INDOFOOTBALL

Paceklik gelar yang dialami tim nasional (Timnas) sepak bola Indonesia telah berakhir. Ditandai dengan sukses Timnas Senior menjadi jawara Piala Kemerdekaan yang perhelatannya berakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat lalu (29/8). Inilah gelar pertama yang diraih pasukan Merah Putih sejak kali terakhir pada 2000 (juga di ajang Piala Kemerdekaan).

Sayang, gelar yang diraih Charis Yulianto dkk kali ini tidak bisa steril dari kontroversi. Indonesia juara setelah Libya, lawan yang dihadapi di partai final, mogok main dan tidak mau melanjutkan pertandingan babak kedua. Padahal, hingga turun minum, tim tamu sudah leading 1-0.

Pemicu kontroversi itu terjadi di akhir babak pertama. Dalam perjalanan menuju ruang ganti, kedua kubu terlibat perseteruan. Kubu Libya mengklaim bahwa sang pelatih telah menjadi korban pemukulan salah seorang ofisial Indonesia. Beragam versi mengapung terkait dengan insiden tersebut. Dalam pengakuannya, ofisial Indonesia itu membantah jika dikatakan telah memukul. ''Saya hanya mendorong,'' dalihnya.

Mana yang benar? Entahlah. Apalagi, insiden tersebut juga luput dari perhatian wartawan. Informasi yang beredar pun simpang siur. Beberapa wartawan mendapatkan kabar tentang insiden itu dari anak gawang yang kebetulan menyaksikan keributan yang memalukan tersebut.

Yang pasti, insiden di lorong menuju ruang ganti itu telah memicu lahirnya keputusan berani dari kubu Libya. Mereka tidak nongol ketika pertandingan babak kedua seharusnya dimulai. Bahkan ketika para pemain Indonesia sudah bersiap di atas lapangan.

Penonton pun kebingungan. Ditunggu 15 menit, tak seorang pun pemain dan ofisial Libya muncul ke lapangan. Setelah berdiskusi dengan perangkat pertandingan yang lain, wasit memutuskan bahwa Libya kalah walk out (WO). Sebagai pengesahan, pemain Indonesia melakukan kickoff dan menendang bola ke arah gawang Libya yang tidak berpenghuni.

Apa pun caranya, Indonesia adalah juara Piala Kemerdekaan. Tidak ada celah untuk membatalkan gelar tersebut. Meski kecewa berat, Libya harus menerima kenyataan bahwa mereka kalah karena tidak mau melanjutkan pertandingan.

Indonesia memang diuntungkan dengan mogoknya Libya. Tanpa harus memeras keringat dan mencetak gol, tim besutan pelatih Benny Dollo itu bisa bersuka ria merayakan kemenangan.

Tapi, tunggu dulu! Masalah ini bisa jadi belum berakhir. Ancaman sanksi untuk Indonesia bisa saja muncul terkait dengan insiden tersebut. Apalagi, seperti klaim PSSI, Piala Kemerdekaan adalah salah satu turnamen yang sudah diakui dalam kalender resmi FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional). Bukan tidak mungkin, Libya melaporkan insiden itu yang kemudian berujung pada lahirnya sanksi dari FIFA.

Sepak bola Indonesia memang sedang bermasalah. Tidak hanya PSSI-nya, tapi juga kompetisinya. Menghalalkan segala cara demi menjadi juara, tampaknya, bukan hal yang aneh di belantika sepak bola nasional. Apa yang terjadi pada final Piala Kemerdekaan lalu hanyalah satu di antara sekian model "strategi" untuk menjadi juara.

Pada final kompetisi Divisi I di Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu, 23 Agustus lalu, Mojokerto Putra (MP) akhirnya menjadi juara setelah menang 1-0 atas PPSM Magelang. Yang bikin kubu PPSM dongkol berat adalah proses lahirnya gol kemenangan MP yang mereka tuding sangat kontroversial.

Gol itu lahir dari hadiah penalti yang diberikan wasit ketika pertandingan waktu normal seharusnya berakhir. Wasit menunjuk titik putih saat pertandingan memasuki menit ke-93! Tak lama setelah MP mencetak gol, peluit panjang berbunyi dan berakhirlah partai final tersebut.

Empat tahun lalu, ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang, Sumsel, melahirkan istilah untuk juara cabang sepak bola. Yakni, JUARA BERSAMA! Predikat itu disematkan kepada tim Jawa Timur dan Papua. Dengan dalih tidak adanya lampu penerang di stadion, kedua tim bersepakat untuk tidak melanjutkan pertandingan dan rela menjadi juara bersama.

Sepak bola Indonesia memang penuh warna. Begitu juga jika ingin menjadi juara, banyak caranya. Anyway, selamat untuk Timnas Senior yang telah menjadi juara Piala Kemerdekaan 2008. Untuk tim Libya, inilah sepak bola Indonesia. Pulanglah dengan lapang dada! (JPO)
0 Responses to "Apa pun Caranya, Yang Penting Juara"

Posting Komentar

Profil Bintang

Bokay Eddi Foday "Si Kurus Beri Bukti"

Postur kurus kerempeng dan tinggi menjulang yang dimiliki Bokay Eddie Foday kurang ideal untuk ukuran pesepak bola profesional. Kala pertama kali menukangi Persiwa di awal musim, Suharno sempat meragukan kemampuan striker kelahiran Monrovia, Liberia, 28 Mei 1986 yang telah tiga musim membela panji The Highlander itu.

Pandangannya baru berubah saat menyaksikan Bokay beraksi di lapangan. "Dia memang striker bagus," puji Suharno. Selengkapnya


Aun Carbiny "Bek Subur"

Berada di posisi belakang bukan berarti punya peluang sedikit untuk mencetak gol. Itu telah dibuktikan oleh seorang Aun Carbiny. Stopper PSMS ini kembali jadi pahlawan kemenangan PSMS.

Pemain 24 tahun tersebut menjadi pencetak gol tunggal Ayam Kinantan saat mengalahkan VB Sport dalam lanjutan penyisihan AFC Cup Gru G.

Selain memuluskan langkah PSMS ke 16 besar, dengan gol itu pula, Selengkapnya

Berita Terbaru

blog-indonesia.com Football Blogs - BlogCatalog Blog Directory TopOfBlogs Add to Technorati Favorites KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia 100 Blog Indonesia Terbaik Blog Terbaik
IndoTopBlog, Kumpulan Blog dan Situs Indonesia