PSMS Medan Sriwijaya FC PSM Makasar Persiwa Wamena Pelita Jaya Persipura Persita Persijap PKT Bontang Persela Persib Persik PSIS Deltras Persiba Persija Persitara Arema PSSB Persiraja Persisam Gresik United Persih PSAP PSIR PSPS Persikab Persigo PSP Persikad Persiba Bantul PSS Persekabpas Persibom Persikota Semen Padang Mitra Kukar Persibo Persikabo PSIM Persis Perseman Persiku Persema Persebaya
Persebaya

Sabtu, Maret 21, 2009

(0) Comments

Maung Pesimistis

INDOFOOTBALL

Rencana Badan Liga Indonesia (BLI) memadatkan jadwal pertandingan di satu kawasan tertentu ditanggapi miris Persib Bandung.

Maung Bandung tetap pesimistis Kompetisi Liga Super bisa rampung sesuai target, bulan Juni.Pesimisme itu disampaikan Wakil Manajer Persib Umuh Moechtar.Menurutnya, BLI terlalu percaya diri sehingga tidak memakai insting saat melakukan antisipasi masalah yang bisa muncul.

Bahkan, BLI mengabaikan kemungkinan tidak keluarnya izin pertandingan pada masa penghitungan suara dan masa kampanye Pilpres. “Potensi konflik pada masa penghitungan suara dan kampanye Pilpres sama besarnya dengan kampanye Pemilu Legislatif. Seharusnya BLI mencari solusi masalah ini agar kompetisi tidak berubah- ubah lagi,”kata Umuh.

Persoalan lain adalah soal kontrak pemain. Menurut Umuh, kontrak pemain Persib rata-rata sudah berakhir pada April 2009. Padahal, kompetisi masih berlanjut hingga Juni. Karena itu,Persib akan mengadukan masalah ini ke BLI terkait status kontrak pemain yang belum jelas.

“Sekarang kami sudah merayu pemain agar mau memperbaharui kontrak dan tampil hingga akhir Juli.Tapi,kalau kompetisi molor lagi, manajemen Persib angkat tangan,” tambahnya. Seperti diberitakan sebelumnya, BLI berencana melakukan pemadatan jadwal pertandingan di satu kawasan tertentu dalam interval waktu 17 April–4 Juni 2009.

Ada empat kawasan yang dijadikan alternatif tuan rumah: Kalimantan Timur,Jawa Timur, gabungan DKI Jakarta- Jawa Tengah,atau gabungan DKI Jakarta- Jawa Barat. “Saya berharap Bandung dipilih menjadi tuan. Apalagi, di Bandung ada dua stadion memadai,yakni Si Jalak Harupat, Soreang, dan Stadion Siliwangi, Kota Bandung,” ujarnya.

Jika Persib pesimistis kompetisi bisa berakhir sesuai rencana BLI, beberapa klub mengeluhkan munculnya potensi kerugian jika Liga Super digelar berdasarkan zona. Keputusan itu membuat klub akan mengalami kerugian ratusan juta rupiah karena tidak bisa mengais rezeki dari penjualan tiket karena kompensasi Rp75 juta hanya cukup untuk menutupi biaya akomodasi tim.

Sebut saja Persija. Klub Ibu Kota ini biasa mengais pemasukan Rp200–250 juta dalam satu laga homeyang ratarata disaksikan 15.000 penonton. Macan Kemayoran–julukan Persija–menyisakan delapan laga homehingga akhir kompetisi. Secara matematis, mereka bakal kehilangan duit Rp1,8 miliar dari penjualan tiket penonton.

Padahal, kompensasi BLI hanya Rp75 juta per pertandingan alias Rp600 juta dalam delapan laga home. “Jadwal kompetisi yang tidak menentu ini menghambat proses Persija menuju klub profesional.Saya belum bisa membayangkan jika Persija sudah lepas dari APBD, sementara jadwal kompetisi masih begini,” kata Direktur Umum PT Persija Jaya Bambang Sutjipto.

Kerugian juga membayangi Arema Malang. Klub berjuluk Singo Edan ini terbiasa mengantongi Rp250 juta jika Stadion Kanjuruhan dijejali 20.000 Aremania. Bahkan, laga terakhir Arema melawan Persela dihadiri 25.00 penonton. Panpel Arema menjual tiket tribune VIP Rp40.000 per lembar dan tribune ekonomi Rp15.000 per lembar.

Dengan kapasitas stadion mencapai 3.000 tribune VIP dan 35.000 tribune ekonomi, dan sisa lima laga home, Panpel Arema berpotensi rugi Rp1,25 miliar. Tak kalah rugi adalah Persijap Jepara. Bila sumber pendapatan ini distop, praktis kondisi klub bisa kolaps karena sulit memenuhi kebutuhan tim.

“Kami sudah berupaya menggali pemasukan dari bisnis- bisnis PT Persijap. Tapi, dalam kondisi krisis begini, sulit mendapat uang,” kata Manajer Persijap Edi Sudjatmiko. Persijap biasa mendapat pemasukan kotor sekitar Rp150–200 juta setiap berlaga di Stadion Gelora Bumi Kartini (SGBK).

Bahkan, mereka pernah mendapat pemasukan Rp305 juta dengan jumlah 14.000 penonton saat menghadapi PSIS Semarang. Laga home Persijap rata-rata dihadiri sekitar 7.000–10.000 Jet Mania dan Banaspati–dua organisasi suporter Persijap. (SND)

0 Responses to "Maung Pesimistis"

Posting Komentar

Profil Bintang

Bokay Eddi Foday "Si Kurus Beri Bukti"

Postur kurus kerempeng dan tinggi menjulang yang dimiliki Bokay Eddie Foday kurang ideal untuk ukuran pesepak bola profesional. Kala pertama kali menukangi Persiwa di awal musim, Suharno sempat meragukan kemampuan striker kelahiran Monrovia, Liberia, 28 Mei 1986 yang telah tiga musim membela panji The Highlander itu.

Pandangannya baru berubah saat menyaksikan Bokay beraksi di lapangan. "Dia memang striker bagus," puji Suharno. Selengkapnya


Aun Carbiny "Bek Subur"

Berada di posisi belakang bukan berarti punya peluang sedikit untuk mencetak gol. Itu telah dibuktikan oleh seorang Aun Carbiny. Stopper PSMS ini kembali jadi pahlawan kemenangan PSMS.

Pemain 24 tahun tersebut menjadi pencetak gol tunggal Ayam Kinantan saat mengalahkan VB Sport dalam lanjutan penyisihan AFC Cup Gru G.

Selain memuluskan langkah PSMS ke 16 besar, dengan gol itu pula, Selengkapnya

Berita Terbaru

blog-indonesia.com Football Blogs - BlogCatalog Blog Directory TopOfBlogs Add to Technorati Favorites KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia 100 Blog Indonesia Terbaik Blog Terbaik
IndoTopBlog, Kumpulan Blog dan Situs Indonesia