Tampilkan postingan dengan label Profil Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Legenda. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Maret 28, 2009
Ishak Udin "Putra Terbaik Jabar"
INDOFOOTBALL
Bumi Parahyangan kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan pemain nasional dan Persib dekade 60-an, Ishak Udin (70), Selasa (24/3) meninggal dunia di rumahnya di Jl. Seroja I No. 62, Bumi Kencana Rancaekek, Kab. Bandung. Pria kelahiran Bandung 21 Juni 1938 ini wafat karena sakit jantung yang diderita sejak beberapa waktu lalu.“Pagi hari bapak masih sehat. Kami pun tidak mengetahui waktu tepat meninggalnya karena baru diketahui sekitar pukul 16.30 WIB saat hendak dibangunkan untuk salat ashar,” ujar putrinya, Nila Sari.
Sehari sebelumnya bapak enam putra ini baru melakukan kontrol ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Kondisi kesehatannya sebenarnya mulai membaik. Bengkak di kedua kaki sebagai dampak dari penyakit jantung yang diderita mulai membaik.
Sebagai pemain sepak bola, prestasi Ishak cukup mengesankan. Pada 1961 Ishak membawa Persib juara perserikatan bersama Ade Dana, Iljas Hadade, dan lain-lain. Ishak masuk skuad di timnas Indonesia untuk Asian Games 1962 dan beberapa turnamen lain, seperti Merdeka Games 1962.
Selain itu mantan pelatih Persib dan Persikab ini pernah mengangkat Persikab Kabupaten Bandung ke Divisi Utama pada 1995. Almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga, Tanggulan Rancaekek, Kab. Bandung. (BN)
Senin, Oktober 20, 2008
Sofyan Hadi "Prestasi Bagi Ibu Kota"
INDOFOOTBALL
Saat masih berstatus pemain, Sofyan Hadi pernah mengharumkan nama Jakarta. Bersama nama-sama seperti Sutjipto Suntoro, Iswadi Idris, Anjas Asmara, Andi Lala, Wahyu Hidayat, Hadi Ismanto, Dede Sulaeman, Ronny Pasla, dan Yudo Hadianto, ia membela panji kebesaran Persija Jakarta.Sekian belas tahun kemudian, saat berstatus pelatih, kembali ia mempersembahkan prestasi bagi tim ’Macan Kemayoran’. Dengan materi pemain sekelas Nuralim, Joko Kuspito, Antonio Claudio, Anang Maruf, Budiman, Agus Suprianto, Luciano Leandro, Imran Nahumarury, Warsidi, Gendut Doni, dan Bambang Pamungkas, pelatih berjenggot putih ini mengantarkan Persija ke tangga juara Liga Indonesia 2001.
Usai memberi gelar juara pada Persija, Sofyan berlabuh ke PSPS Pekanbaru. Beberapa musim kemudian, Sofyan pindah ke PSIM Yogyakarta. Di tim ini, kembali Sofyan membuktikan keampuhan racikannya. PSIM yang telah sekian lama berkubang di Divisi I, mampu dibawa Sofyan promosi ke Divisi Utama.
Tapi, kekecewaan juga sempat didapat Sofyan dari PSIM. Sebab, setelah mampu meloloskan tim ini ke Divisi Utama, posisi Sofyan justru digantikan pelatih lain, Edi Paryono. Namun, lantaran performa PSIM mengalami penurunan drastis pasca kepergian Sofyan, manajemen PSIM berubah pikiran. Sofyan kembali diminta menangani tim itu. Pemahaman Sofyan akan karakter tim PSIM jadi pertimbangan utama.
Sebagai pelatih, Sofyan dikenal disiplin dan tegas. Tapi, ia tetap mengedepankan kebersamaan dalam mengelola sebuah tim. Tak heran, bila para pemain yang diasuhnya bersikap hormat dan patuh pada Sofyan.
DATA
Lahir : 17 April 1951
KARIR PELATIH
1983-1986 : Yanita Utama
1999-2002: Persija jakarta
2003-2004: PSPS Pekanbaru
2006-2007: PSIM Yogyakarta
PRESTASI
1984: Juara Galatam (Yanita Utama)
2001: Juara Divisi Utama (Persija Jakarta)
Sabtu, Oktober 04, 2008
Robby Darwis, Legenda Tanah Pasundan
INDOFOOTBALL
Robby Darwis adalah salah satu pesepakbola paling terkenal di Jawa Barat. Beroperasi sebagai stopper, peran Robby sangat sentral dalam setiap klub yang dibelanya. Nama pemain kelahiran Bandung, 30 Oktober 1964 ini kian besar setelah mampu membawa Persib Bandung jadi juara Liga Indonesia 1994/1995. Dengan ban kapten di lengan, dengan gagah Robby mengangkat Piala Presiden setelah Persib mengalahkan Petrokimia Putra 1-0 di partai final.Pengakuan akan kualitas permainan Robby juga datang dari timnas. Sejak 1985, Robby telah mengenakan seragam tim ‘Merah Putih’. Ia termasuk salah satu pemain yang menghuni skuad PSSI Garuda. Setelah membela timnas di Asian Games dan SEA Games, Robby kembali dipercaya mengawal pertahanan timnas di Pra Piala Dunia 1990. Dengan peran Robby, timnas mampu menahan imbang tanpa gol dua tim tangguh, Korea Utara dan Jepang di penyisihan Grup F.
Meski Indonesia akhirnya tak mampu meloloskan diri dari penyisihan Grup F Pra Piala Dunia 1990, tapi dua tahun kemudian Robby menembusnya dengan prestasi lain. Di bawah asuhan pelatih asing Anatoly F.Polosin, Robby dan pemain timnas lainnya mampu merebut medali emas di SEA Games Manila 1991, setelah mengalahkan Thailand 4-3 di final.
Setelah membawa Persib ke puncak kejayaan, di akhir karir sebagai pesepakbola, Robby sempat memperkuat Persikab Bandung dan klub lamanya, Pro Duta Bandung. Usai gantung sepatu, Robby serius menekuni karir sebagai pegawai sebuah bank swasta. Tapi, lantaran darah sepakbola sudah begitu kental, Robby kembali ke lapangan hijau. Tentu tak lagi sebagai pemain, tapi pemikir di belakang tim.
Pada musim 2007, Robby dipercaya sebagai asisten pelatih Persib. Tim ‘Maung Bandung’ ditukangi pelatih asing asal Moldova, Arcan Iurie Anatolievici. Pengalaman dan jam terbangnya sebagai pemain, khususnya saat membela Persib jadi modal berharga untuk membimbing pemain-pemain muda Persib.
“Saya ingin Persib kembali meraih kejayaan seperti di awal Liga Indonesia. Dengan kerja keras dan semangat tinggi, saya yakin target itu akan terwujud,” tegas Robby yang satu angkatan dengan Sutiono Lamso, Kekey Zakaria, Yadi Mulyadi, dan Asep Sumantri.
DATA PRIBADI
Tempat lahir: Bandung
Tanggal: 30 Oktober 1964
KARIR di KLUB
1980: Klub Pesma IKIP Bandung
1981: Isuda Bandung
1982: Setia Bandung
1990-1994: Pro Duta Bandung
1994-1999: Persib Bandung
2000: Persikab Bandung
2001: ProDuta Bandung
KARIR di TIMNAS
1985: PSSI Garuda
1986: Timnas Asian Games Seoul
1987: Timnas SEA Games Jakarta
1989: Timnas Pra Piala Dunia
1991: Timnas SEA Games
1992: Timnas Piala Asia
1993: Timnas Pra Piala Dunia
PRESTASI
1991: Medali emas SEA Games
1994/1995: Juara Liga Indonesia (Persib Bandung)
Sabtu, Oktober 04, 2008
Yudo Hadiyanto, Tenang dan Tangkas
INDOFOOTBALL
Menahan serbuan pemain-pemain klub luar negeri semisal Leeds United asal Inggris, Benfica Portugal, dan Dynamo Moskwa dari Rusia adalah salah satu pengalaman paling berkesan bagi Yudo Hadianto saat masih aktif menjadi penjaga gawang. Di era Yudo, klub-klub luar negeri memang banyak yang menyambangi Indonesia.Yudo adalah salah satu penjaga gawang legendaris yang dimiliki negeri ini. Pecinta sepakbola pada 1960 hingga 1970-an pasti mengenal sosok tinggi langsing yang dimiliki Yudo. Saat masih berjaya, Yudo dikenal sebagai penjaga gawang yang tenang tapi tetap tangkas menyambut datangnya bola. Dengan tipikalnya itu, Yudo sempat disebut sebagai penjaga gawang terbaik di tanah air, bahkan Asia.
Sama seperti mayoritas pesepakbola besar lainnya, Yudo sudah tertarik dengan olahraga yang satu ini sejak masih kecil. Kala menginjak bangku SLTA, Yudo bergabung dengan Persis Solo. Saat membela Persis, pelatih klub UMS, Endang Witarsa menyaksikan penampilannya. Yudo pun bergabung dengan UMS. Meski tak langsung jadi penjaga gawang utama di UMS, Yudo tak patah semangat.
Kprah bersama UMS pula yang membawa Yudo masuk skuad Merah Putih. Kala itu, pelatih asing Tony Pogacnik yang menangangi timnas PSSI memanggil Yudo untuk masuk timnas yunior pada 1961. Yudo pun tampil di Kejuaraan yunior Asia. Selanjutnya, status kiper timnas selalu di sandang Yudo. Ia tampil menjaga gawang timnas pada sederet ajang internasional. Seperti Asian Games, Merdeka Games, King’s Cup, dan Pra Olimpiade.
Meski memiliki karir bagus di lapangan hijau, Yudo tak lupa dengan masa pensiun. Ia sadar, bermain sepakbola pasti ada batasnya. Yudo termasuk beruntung karena bisa bekerja di Pertamina sejak 1971 dan pensiun pada 1997. Usai pensiun dari Pertamina, Yudo masih berkecimpung di lapangan hijau. Tentu saja tak lagi sebagai pemain, melainkan pelatih. Ia sempat melatih sebuah SSB di Jakarta.
DATA PRIBADI
Tempat lahir: Solo
Tanggal: 19 September 1941
KARIR di KLUB
1958: Persis Solo
1959-1968: UMS
1968-1969: Maesa
1969-1971: Pardedetex
1972: Setia
1976: Indonesia Muda
KARIR di TIMNAS
1961: PSSI Yunior Asia 1961
1962: Timnas Asian Games IV Jakarta, Merdeka Games Malaysia
1966: Timnas Asian Games V Bangkok
1969: Merdeka Games Malaysia, King’s Cup Thailand
1970: King’s Cup Thailand
1972: Merdeka Games Malaysia
1974: Timnas Pra Piala Dunia, Merdeka Games
KARIR KEPELATIHAN
1976: Asisten Pelatih Tim Nasional
1978: Arseto Solo
1980: Indonesia Muda
1986: Timnas Asian Games
2005: Timnas U-20
PRESTASI
1962: Medali Perak Asian Games IV Jakarta
1966: Perempat final Asian Games V Bangkok
1969: Juara Merdeka Games
1970: Runner-up King’s Cup Thailand
1972: Finalis Merdeka Games Malaysia
1974: Juara Merdeka Games
Jumat, Oktober 03, 2008
M. Basri, Pelatih Lintas Zaman
INDOFOOTBALL
Lintas zaman. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan M. Basri di pentas sepakbola Indonesia. Bayangkan, ia telah merumput sejak era 1960-an, dan hingga kini masih bergelut di dunia yang sama. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang.Basri yang lahir di Makassar, tiga tahun sebelum Indonesia merdeka sempat membela timnas di Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia jadi tuan rumah pesta olahraga se-Asia. Selanjutnya, Basri terus tampil pada dua Asian Games berikutnya. Ia juga jadi bagian timnas saat Indonesia turun di Ganefo.
Persebaya Surabaya adalah tim pertama yang diasuh Basri. Pada musim 1977, Basri berhasil mengantarkan Persebaya jadi juara Kompetisi Perserikatan. Usai memberikan prestasi puncak bagi Persebaya, Basri pindah ke Niac Mitra. Nampaknya Basri juga ingin menjajal kerasnya Kompetisi Galatama. Lagi-lagi keampuhan racikan Basri terbukti. Tiga kali Niac Mitra dibawa Basri jadi juara Galatama, masing-masing pada 1981, 1982, dan 1986.
Kenyang merasakan persaingan di era Kompetisi Perserikatan dan Galatama, karir Basri sebagai pelatih terus berlanjut saat sepakbola Indonesia memasuki fase Liga Indonesia. Sebagai putra derah, di awal Liga Indonesia bergulir, Basri sangat bangga bisa menukangi PSM Makassar. Nyaris saja Piala Presiden, lambang supremasi Liga Indonesia berhasil dipersembahkan Basri bagi tanah kelahirannya. Sayang, di final Liga Indonesia 1995/1996, PSM Makassar kalah 0-2 dari Mastrans Bandung Raya di final. PSM Makassar pun gagal jadi juara Liga Indonesia untuk kali pertama.
Selain PSM, di era Liga Indonesia, Basri juga pernah menangani Arema Malang, Persita Tangerang, dan terakhir Persela Lamongan di musim 2007. Kala menangani Persita di musim 2004, Basri mengajukan pengunduran diri dari posisi pelatih kepala. Hal ini dilakukan karena Persita menelan kekalahan beruntun.
Sebagai pelatih, Basri dikenal keras dan tegas. Ia selalu menegakkan disiplin tinggi pada tiap tim yang diasuhnya. Hingga kini, Basri bisa dikatakan sebagai pelatih loka paling senior yang masih beredar di kancah sepakbola nasional.
DATA DIRI
Tempat lahir: Makassar
Tanggal: 5 Oktober 1942
KARIR KLUB
1961: Klub MOS
1968: Pardedetex
1973: HBS Surabaya
KARIR TIMNAS
PSSI Asian Games 1962, 1966, 1970
PSSI Ganefo 1962
PSSI Pra Olimpiade 1968
Piala Asia Cup 1968
PSSI King's Cup 1969 (Juara), 1970 (Runner-up), 1971
PSSI Merdeka Games 1967, 1969 dan 1970 (Juara)
PSSI Pesta Sukan 1970 (Juara)
PSSI Pra Piala Dunia 1973
KARIR KEPELATIHAN
1977: Persebaya Surabaya
1979: PSSI Pratama
1980-1986: Niac Mitra
1983: Timnas Pra Olimpiade
1989: Timnas Pra Piala Dunia, Timnas SEA Games
1991-1993: Arema Malang
1994: Mitra Surabaya
1995-1997: PSM Makassar
2000: Arema Malang
2003: Persim Maros
2004: Persita Tangerang
2005: PSM Makassar
2007-skrg: Persela Lamongan
PRESTASI KEPELATIHAN
1977: Juara Kompetisi Perserikatan (Persebaya Surabaya)
1981: Juara Galatama (Niac Mitra)
1982: Juara Galatama (Niac Mitra)
1986: Juara Galatama (Niac Mitra)
1993: Juara Galatama (Arema Malang)
1996: Finalis Liga Indonesia (PSM Makassar)
Jumat, Oktober 03, 2008
Simson Rumahpasal, Bek Kanan Tangguh
INDOFOOTBALL
Spesialis bek kanan. Itulah Simson Rumahpasal. Mantan pemain nasional berdarah Maluku ini cukup lama membela tim Merah Putih. Kepiawaiannya menghalau serangan yang datang dari sektor kiri, membuat posisi bek kanan timnas selalu dipercayakan pada Simson di era pertengahan 70-an hingga awal 80-an.Tak kurang dari delapan tahun Simson mengawal sektor pertahanan timnas. Dalam kurun itu, ia sempat tampil di sejumlah ajang internasional, semisal Merdeka Games, Pra Olimpiade, King’s Cup, SEA Games, dan Pra Piala Dunia.
Lama membela timnas jelas menimbulkan kebangaan bagi seorang pesepakbola. Tak terkecuali Simson. “Membela timnas adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Bahkan, dengan materi sekalipun,” ujar pemain kelahiran Desa Lohiatala, Seram Barat, Maluku ini. Itu sebabnya, Simson prihatin bila ada pemain yang menolak panggilan masuk timnas.
Usai gantung sepatu, Simson memiliki keinginan untuk membagi ilmu yang dimilikinya pada para pemain muda. Keinginan itu yang membuat menekuni profesi baru sebagai pelatih. Segudang pengalaman yang dimiliki Simson membuatnya tak sulit menemukan klub yang mau memakai jasanya.
Tercatat, sederet klub sempat merasakan sentuhan Simson. Seperti Persikota Tangerang, WarnaAgung, Persita Tangerang, Persijatim Jakarta Timur, PS Ketapang, Persipon Pontianak, Persika Karawang, dan PS ABRI.
DATA DIRI
Tempat lahir: Desa Lohiatala, Seram Barat, Maluku
Tanggal: 21 Agustus 1950
KARIR di KLUB
1968-1970: BintangTimur, Ambon
1970-1971: PSSA Ambon Yunior
1970-1972: PSSA Ambon Senior
1973: Mutiara Pertamina Makassar
1974: Beringin Putra
1975: PSM Makassar
1976: Warna Agung
1977-1986: Warna Agung (Galakarya)
1978: Persija Jakarta
KARIR di TIMNAS
1975: PSSI Garuda Aniversiry Cup
1976: Merdeka Games, Pra Olimpiade, King’s Cup
1977: Timnas SEA Games, Pra Piala Dunia
1981: Piala Presiden, Pra Piala Dunia
1982: Pra Piala Dunia, Merdeka Games, King’s Cup
KARIR KEPELATIHAN
1986: Persikota Tangerang
1988: Warna Agung
1991: Persita Tangerang
1993: Persijatim Jakarta Timur
1995: Persikota Tangerang
1996: PS Ketapang
1997: Persipon Pontianak
1998: Persika Karawang
1999: PS ABRI
2002: Pelatih Porda Muna, Sulawesi Tenggara
2003: Diklat Muna
2005: Pelatih Persipo Purwakarta
Kamis, Oktober 02, 2008
Andjas Asmara, Prestasi Bersama Persija
INDOFOOTBALL
Andjas Asmara lahir di Medan, Sumatera Utara. Di tanah kelahirannya itu pula ia mulai meretas asa sebagai aktor lapangan hijau. Klub Yunior Medan Utara jadi tempat Andjas mendalami dan mematangkan teknik-teknik sepakbola. Ia bergabung dengan klub itu pada 1969.Dua tahun kemudian, Andjas memutuskan untuk pindah ke klub Jayakarta dan selanjutnya Persija Jakarta. Di klub terakhir ini, Andjas menggapai prestasi puncak. Berposisi sebagai gelandang, Andjas berperan besar mengantarkan Persija jadi juara Perserikatan pada beberapa musim. Nama besar Persija dan Andjas jadi kian ditakuti musuh.
Mantapnya performa Andjas di kompetisi domestik membuat pintu timnas terbuka. Andjas dipercaya membela skuad Merah Putih pada beberapa ajang semisal Pra Olimpiade, Pra Piala Asia, dan Pra Piala Dunia.
Meski punya talenta mumpuni, tapi karir Andjas di lapangan hijau terbilang singkat. Penyebabnya tak lain hantu cedera yang terus membayangi Andjas. Ia pernah didera cedera lutut dan bahu. Mau tak mau, Andjas harus mengucapkan selamat berpisah dengan lapangan sepkbola.
Tak seperti pemain besar lain yang langsung banting stir menjadi asisten pelatih atau pelatih, usai gantung sepatu, Andjas justru memilih bidang lain yang benar-benar berbeda. Ia menekuni bisnis. Mulai dari telekomunikasi hingga penambangan batu bara pernah ditekuni Andjas.
Namun demikian, indahnya torehan karir di lapangan hijau tetap tak bisa dilupakan oleh Andjas. Bersama beberapa pemain legendaris lainnya seperti Ipong Silalahi dan Roni Paslah, pada pertengahan 2007 Andjas terlibat dalam sebuah acara reality show sepakbola yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Dalam acara itu, Andjas menjadi anggota tim pelatih yang memantau dan membentuk sebuah tim bermaterikan pemain-pemain muda dari berbagai daerah di Indonesia.
DATA DIRI
Tempat lahir: Medan
Tanggal: 30 April 1950
Posisi: gelandang
KARIR di KLUB
1968: Klub Medan Utara
1970-1972: Jayakarta
1972-1979: Persija Jakarta
KARIR di TIMNAS
1972: Pra Piala Dunia
1974: Pra Piala Asia
1976: Pra Olimpiade
1977: Pra Piala Dunia
1978: Pra Piala Asia, Presiden Cup Seoul
PRESTASI
1973: Juara Perserikatan (Persija Jakarta)
1977: Juara Marah Halim (Persija Jakarta)
1974: Juara Piala Vietnam (Persija Jakarta)
1975: Juara Perserikatan (Persija Jakarta)
1978: Juara Perserikatan (Persija Jakarta)
1979: Juara Perserikatan (Persija Jakarta)
Rabu, Oktober 01, 2008
Maman Suryaman, Prestasi dari Bekasi
INDOFOOTBALL
Maman Suryaman lahir dan besar di Bekasi. Dari Bekasi pula ia merangkai karir sebagai pesepakbola. Bersama Warta Kusuma -rekannya yang juga mantan pemain nasional-, Maman mengenal sepakbola sejak masih berusia muda. “Sejak kecil, saya sudah menyukai sepakbola. Kebetulan, rumah saya terletak tak jauh dari alun-alun kota Bekasi. Bersama teman-teman sebaya, saya sering bermain sepakbola di lapangan alun-alun,” tutur Maman.Dari sekedar bermain, lambat laun Maman mulai serius menekuni dunia si kulit bundar. Pada 1979, Maman bergabung dengan klub asal Bekasi yang baru saja berdiri, Bekasi Putra. Saat itu, Bekasi Putra dilatih oleh Suwandi Simon. Kala menginjak bangku SMA, kualitas permainan Maman mulai meningkat. Endang Witarasa, yang saat itu berstatus pelatih klub elit Warna Agung tertarik dengan skill Maman. Endang lantas merekrut Maman pada 1982.
Saat bergabung dengan Warna Agung, Maman masih tinggal di Bekasi dengan kedua orang tuanya. Maklum, ia masih berstatus pelajar SMA. “Tiap hari sepulang sekolah, saya naik bis dari Bekasi ke Pluit tempat latihan Warna Agung,” ucapnya. Perjuangan Maman tak sia-sia. Ia terpilih masuk skuad inti Warna Agung. Meski sudah mulai meniti karir sebagai pesepakbola, Maman tak melupakan pendidikan. Selepas SMA, Maman masuk Perbanas dan mengambil program D III jurusan Perbankan.
Setelah Warna Agung bubar, Maman tak perlu lama-lama menganggur. Klub elit Galatama lainnya, Pelita Jaya, tertarik dengan performa Maman. Pelita Jaya pun mengontraknya. Tak hanya di level klub, kualitas permainan Maman juga diakui di tim nasional. Sejak 1980 hingga 1991, Maman jadi penghuni tetap skuad Merah Putih.
Setelah memutuskan gantung sepatu, pada akhir 1999 Maman memilih profesi sebagai pelatih. Pilihan ini tak salah. Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, Maman mampu menyulap sebuah klub menjadi kekuatan yang menakutkan bagi setiap lawan.
DATA DIRI
Tempat/tanggal lahir: Bekasi, 15 Januari 1964
PRESTASI
Mengantarkan Pelita Jaya menjadi juara Galatama 1987, 1989, 1990
KARIR di KLUB
1979 : Bekasi Putera
1980 : Persipasi Bekasi
1982 : Warna Agung
1986 : Pelita Jaya
1991 : Persija Jakarta
KARIR di TIMNAS
1980 : PSSI Yunior Garuda B
1985 : PSSI President Cup Seoul
1986 : PSSI Pra Piala Asia
1988 : PSSI Merseka Games
1989 : PSSI Pra Piala Dunia dan PSSI Sea Games
1991 : PSSI Pra Olimpiade
1993 : PSSI Sea Games
1995 : PSSI King’s Cup
KARIR PELATIH
2000 : Persipasi Bekasi
2002 : Haornas Jabar
2002 : Pra PON Jabar
2003 : Persijatim
2005 : Asisten Pelatih Sriwijaya FC
2005 : Pesik Kuningan
2006 : PSAD Indonesia
2007 : PSAD Indonesia
Rabu, Oktober 01, 2008
I Gusti Putu Yasa, Bermula dari Hobi
INDOFOOTBALL
Awalnya tak pernah terlintas di benak I Gusti Putu Yasa untuk meniti karir di lapangan hijau. Sepakbola memang hanya sebatas hobi baginya. Meski kerap bermain sepakbola dengan teman-teman sebaya, namun bayangan pada suatu saat akan jadi pemain besar tak terlintas dalam benak Putu.Tapi, suratan nasib berkata lain. Putu ditunjuk menjadi kiper tim sekolahnya yang tampil di sebuah ajang. Sejak itulah, Putu mulai melirik karir sebagai pesepakbola. Selepas SMA, Putu merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Ia mendapat kesempatan bekerja di sebuah perusahaan otomotif terkemuka.
Sambil bekerja, Putu tetap menyalurkan hobinya. Pada awal 1980-an, selain bekerja di perusahaan otomotif, Putu juga bergabung dengan Persita Tangerang. Pada 1984, Putu lulus seleksi penerimaan Pegawai Negeri Sipil di Direktorat Bea dan Cukai. Ia ditugaskan di Surabaya. Di kota Pahlawan ini, Putu bergabung dengan klub elit Persebaya Surabaya.
Uniknya, instansi tempat Putu bekerja malah memberi dispensasi padanya untuk menekuni sepakbola lebih serius. Bersama Persebaya, Putu sempat merajai Kompetisi Perserikatan. Talentanya yang di atas rata-rata membuat pintu tim nasional terbuka buat Putu. Sejak pertengahan 1980-an hingga awal 1990, Putu tercatat sebagai pemain tim Merah Putih. “Saya beruntung instansi tempat saya bekerja memberi dispensasi dan dukungan penuh,” ujarnya.
Saat membela panji Merah Putih, Putu sempat mempersembahkan sejumlah prestasi. Diantaranya medali perak Asian Games 1986 Seoul dan medali emas Sea Games 1987 Jakarta. Kini, Putu bertugas sebagai Kepala Seksi Pencegahan Dan Penindakan, Direktorat Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Cukai, di bandara Juanda, Surabaya.
BIO DATA
Tempat lahir: Denpasar, Bali
Tanggal: 1 Januari 1960
Posisi: kiper
KARIR KLUB
1980: Persita Tangerang
1984: Persebaya Surabaya
1992: Mitra Surabaya
KARIR TIMNAS
1984: Timnas Piala Asia
1985: Timnas Pra Piala Dunia
1985– 1989: Membela Timnas di berbagai ajang Internasional
Selasa, September 30, 2008
Azhari Rangkuty, Memilih Pensiun Dini
INDOFOOTBALL
Rasa kagum pada dua bintang era 60-an, Ronny Pattinasarani dan Junaedi Abdillah membuat Azhari Rangkuty tertarik menekuni sepakbola. Untuk mewujudkan impiannya itu, Azhari masuk SSB Medan Putra Perisai. SBB ini dikenal sebagai tempat pembentukkan sejumlah pemain bintang asal Medan, seperti Parlin Siagian dan Taufik Lubis.Dua tahun ia menimba ilmu di SSB Medan Putra Perisai. Selama kurun waktu itu, performa Azhari mengalami peningkatan. Bakatnya mulai tercium oleh tim elit asal Sumatera Utara, PSMS Medan. Ashari pun lantas masuk skuad PSMS Medan Junior. Tak perlu menunggu terlalu lama bagi Azhari untuk menembus skuad PSMS Medan Senior. Berhasilnya Azhari masuk tim senior PSMS jadi tonggak bagi karir sepakbolanya.
Satu tahun setelah berkostum PSMS Medan Senior, Azhari dipanggil masuk timnas pada 1976. Kala itu, Azhari jadi salah satu pemain muda yang memperkuat timnas yunior. Selanjutnya, pada kurun 1976 hingga 1980, ia tergabung dalam PSSI Garuda I. Beberapa pemain nasional lain yang sama-sama Azhari tergabung dalam PSSI Garuda I adalah Rully Neere, Yessy Mustamu, dan Ricky Yakobi.
Prestasi puncak Azhari bersama tim Merah Putih adalah ketika ia menjadi salah satu pemain yang berjasa mempersembahkan medali emas SEA Games 1987. “Momen itu sungguh sangat membanggakan. Kami dapat mempersembahkan medali emas di hadapan publik sepakbola tanah air. Kenangan indah itu tak akan pernah saya lupakan,” ujar Azhari.
Meski tengah berada dalam puncak karir, Azhari malah memutuskan untuk meninggalkan dunia sepakbola. Pada 1989, ia gantung sepatu. Saat itu ia memang sempat didera kebimbangan antara meneruskan karir di lapangan hijau atau melanjutkan kuliah dan meniti karir baru sebagai karyawan.
“Saya ragu jika terus menjadi pemain, apakah bisa menjamin kehidupan saya kelak. Karenanya, usai tampil di Pra Piala Dunia, saya memilih pensiun dari dunia sepakbola dan melanjutkan kuliah,” jelasnya. Pilihan itu tak salah. Dengan modal gelar Sarjana Ekonomi, Azhari berhasil menjadi karyawan Bank Indonesia hingga saat ini.
DATA DIRI
Tempat/tangal lahir: Medan, 20 Januari 1963
KARIR di KLUB
1970-1972: Medan Putra Perisai
1973-1975: PSMS Medan Yunior
1975: PSMS Medan
1980-1988: Persija Jakarta
KARIR di TIMNAS
1976: PSSI Yunior
1976-1980: PSSI Garuda I
1987: Timnas SEA Games, Jakarta, Piala Kemerdekaan
1989: Pra Piala Dunia 2010
PRESTASI
1975: Juara Perserikatan (PSMS Medan)
1987/1988: runner-up Perserikatan (Persija Jakarta)
1987: Medali emas SEA Games Jakarta
Senin, September 29, 2008
Alexander Saununu, Turunkan Ilmu
INDOFOOTBALL

Saat masih berstatus sebagai pemain, prestasi yang ditorehkan Alexander Saununu terbilang mengkilap. Bergabung dengan tim elit Pelita Jaya yang berlaga di Kompetisi Galatama, Alex sempat mengecap prestasi manis. Salah satunya saat menjuarai Kompetisi Galatama di musim 1990. Bersama dengan pemain-pemain berbakat lainnya semisal Listianto Raharjo, Bonggo Pribadi, Herry Setiawan, Mustafa Umarella, Maman Suryaman, Tiastono Taufik, Rully Neere, Bambang Nurdiansyah, dan Noach Meriem, Alex membawa Pelita Jaya ke puncak prestasi.
Periode Alex dan nama-nama di atas masih berkostum Pelita Jaya memang jadi masa emas klub itu. Mereka tak hanya berjaya di kompetisi domestik, tapi juga di level Asia. Jadi juara Liga Champions zona ASEAN dan berhasil masuk ke 4 Besar Liga Champions Asia jadi bukti. Hingga kini, raihan itu masih belum bisa diikuti oleh klub-klub lain di Indonesia.
Menurut Alex, salah satu faktor yang membuat klub Indonesia bisa berbicara di level Asia saat itu adalah tatanan dan jadwal kompetisi yang masih bisa dibilang baik. Tidak seperti saat ini dimana kompetisi sangat padat yang membuat pemain terkuras habis tenaganya.
Kepiawaian Alex mengolah bola membuat pintu timnas terbuka untuknya. Sejak 1986, ia sudah tergabung di Timnas yunior. Selanjutnya, hingga pertengahan era 1990-an, Alex tetap menghuni skuad tim Merah Putih. Pra Pia Dunia, SEA Games, Piala Kemerdekaan, dan Pra Piala Asia adalah ajang-ajang internasional yang pernah diikuti Alex.
Sepakbola telah memberikan Alex kehidupan dan masa depan yang terbilang cerah. Melalui sepakbola, Alex mendapatkan nama besar dan materi untuk mengarungi hidupnya. Karenanya, ia tak ragu mengarahkan anaknya, Stefan untuk menjadi pesepakbola seperti dirinya.
“Saya bersyukur jadi pesepakbola yang bisa memberikan saya banyak pengalaman. Karenanya, kini saya mengarahkan anak saya untuk menekuni olahraga ini. Kebetulan, ia memang memiliki bakat,” ujar Alex.
DATA DIRI
Tempat lahir: Denpasar
Tanggal: 27 Juli 1967
KARIR di KLUB
1987-1993: Pelita Jaya
1995-1997 : Mastrans Bandung Raya
1997/1998: Persikab Bandung
2001: Persikabo Bogor
2002: Persegi Gianyar
2003: PSJS Jakarta Selatan
2003: Persegi Gianyar
2004: Perseden Denpasar
KARIR di TIMNAS
1986: Timnas yunior
1987: Timnas U-23
1989: Timnas Pra Pia Dunia, SEA Games
1990 : Timnas Piala Kemerdekaan
1993 : Timnas SEA Games, Pra Piala Dunia
2000 : Timnas Pra Piala Asia
PRESTASI
1987: Runner-up Kompetisi Galatama (Pelita Jaya)
1988/1989: Juara Kompetisi Galatama, Juara Liga Champions ASEAN (Pelita Jaya)
1990/1991: Juara Kompetisi Galatama, Juara Piala Kodak, Runner-up Piala Utama, 4 Besar Liga Champions Asia, Runner-up Piala Milo
1992/1993: Juara Piala Kodak, Juara Piala Utama (Pelita Jaya)
1993: Semifinal SEA Games (Timnas)
1996/1997: Juara Liga Indonesia (Mastrans Bandung Raya)
2000: Lolos ke putaran final Piala Asia (Timnas)
Periode Alex dan nama-nama di atas masih berkostum Pelita Jaya memang jadi masa emas klub itu. Mereka tak hanya berjaya di kompetisi domestik, tapi juga di level Asia. Jadi juara Liga Champions zona ASEAN dan berhasil masuk ke 4 Besar Liga Champions Asia jadi bukti. Hingga kini, raihan itu masih belum bisa diikuti oleh klub-klub lain di Indonesia.
Menurut Alex, salah satu faktor yang membuat klub Indonesia bisa berbicara di level Asia saat itu adalah tatanan dan jadwal kompetisi yang masih bisa dibilang baik. Tidak seperti saat ini dimana kompetisi sangat padat yang membuat pemain terkuras habis tenaganya.
Kepiawaian Alex mengolah bola membuat pintu timnas terbuka untuknya. Sejak 1986, ia sudah tergabung di Timnas yunior. Selanjutnya, hingga pertengahan era 1990-an, Alex tetap menghuni skuad tim Merah Putih. Pra Pia Dunia, SEA Games, Piala Kemerdekaan, dan Pra Piala Asia adalah ajang-ajang internasional yang pernah diikuti Alex.
Sepakbola telah memberikan Alex kehidupan dan masa depan yang terbilang cerah. Melalui sepakbola, Alex mendapatkan nama besar dan materi untuk mengarungi hidupnya. Karenanya, ia tak ragu mengarahkan anaknya, Stefan untuk menjadi pesepakbola seperti dirinya.
“Saya bersyukur jadi pesepakbola yang bisa memberikan saya banyak pengalaman. Karenanya, kini saya mengarahkan anak saya untuk menekuni olahraga ini. Kebetulan, ia memang memiliki bakat,” ujar Alex.
DATA DIRI
Tempat lahir: Denpasar
Tanggal: 27 Juli 1967
KARIR di KLUB
1987-1993: Pelita Jaya
1995-1997 : Mastrans Bandung Raya
1997/1998: Persikab Bandung
2001: Persikabo Bogor
2002: Persegi Gianyar
2003: PSJS Jakarta Selatan
2003: Persegi Gianyar
2004: Perseden Denpasar
KARIR di TIMNAS
1986: Timnas yunior
1987: Timnas U-23
1989: Timnas Pra Pia Dunia, SEA Games
1990 : Timnas Piala Kemerdekaan
1993 : Timnas SEA Games, Pra Piala Dunia
2000 : Timnas Pra Piala Asia
PRESTASI
1987: Runner-up Kompetisi Galatama (Pelita Jaya)
1988/1989: Juara Kompetisi Galatama, Juara Liga Champions ASEAN (Pelita Jaya)
1990/1991: Juara Kompetisi Galatama, Juara Piala Kodak, Runner-up Piala Utama, 4 Besar Liga Champions Asia, Runner-up Piala Milo
1992/1993: Juara Piala Kodak, Juara Piala Utama (Pelita Jaya)
1993: Semifinal SEA Games (Timnas)
1996/1997: Juara Liga Indonesia (Mastrans Bandung Raya)
2000: Lolos ke putaran final Piala Asia (Timnas)
Minggu, September 28, 2008
Zulkarnaen Lubis, Maradona Indonesia
INDOFOOTBALL
Berlebihankah bila Zulkarnaen Lubis dijuluki sebagai Maradona Indonesia? Bagi mereka yang tak sempat menyaksikan aski Zulkarnaen di masa-masa kejayaannya, bisa jadi sulit untuk menerima. Tapi, bagi para pecinta sepakbola nasional di era 1980-an, tentu sepakat kalau talenta yang dimiliki Zulkarnaen disamakan dengan Maradona.Beroperasi di lini tengah, gocekan dan umpan-umpan matang dari kaki Zulkarnaen membuat para bomber seperti mendapat pelayanan kelas satu. Visi bermain bola yang tinggi membuat Zulkarnaen mampu membaca pergerakkan pemain belakang lawan sekaligus menentukan ke mana teman di lini depan harus bergerak. Singkatnya, aksi pemain yang pada masa jayanya memiliki ciri rambut gondrong ini memang sangat memikat.
Talenta itu juga yang membawa Zulkarnaen menghuni skuad timnas. Di tim Merah Putih, striker semisal Bambang Nurdiansyah, Dede Sulaiman, dan Noah Meriem merasakan betul matangnya umpan-umpan Zulkarnaen. SEA Games, Pra Piala Dunia, dan Asian Games adalah ajang-ajang internasional yang pernah diikuti Zulkarnaen.
Di level klub, pemain kelahiran Binjai, Medan, Sumatera Utara, 21 Desember 1958 sempat mengecap prestasi puncak bersama Krama Yudha Tiga Berlian. Dua kali Zulkarnaen mengantarkan klub ini ke jenjang juara Kompetisi Galatama. Di masa emas, Zulkarnaen juga jadi rebutan klub-klub di Indonesia.
DATA DIRI
Tempat lahir: Binjai, Medan
Tanggal: 21 Desember 1958
KARIR di KLUB
1970: PSKB Binjai
1978: Bintang Utama
1980: Mercu Buana
1983: Yanita Utama
1986: Krama Yudha Tiga Berlian
1989: Persegres Gresik
1990: Petrokimia Putra
1997: PSM Makassar
KARIR di TIMNAS
1983: Timnas SEA Games
1984: PSSI Garuda I
1985: Timnas SEA Games, PSSI Pratama, Timnas Pra Piala Dunia
1986: Timnas Asian Games, Seoul
PRESTASI
1980: Runner-up Galatama (Mercu Buana)
1985: Juara Sub Grup 3 B PPD
1986: Semifinalis Asian Games
1987: Juara Galatama (Krama Yudha Tiga Berlian)
1988: Juara Galatama (Krama Yudha Tiga Berlian)
Sabtu, September 20, 2008
Tak bisa dimungkiri, salah satu poros sepak bola nasional adalah Makassar. Di ibu kota Sulawesi Selatan itu, lahir banyak sekali pesepak bola andal. Salah seorang di antaranya adalah Ronny Pattinasarany.
Di jagat sepak bola Indonesia, nama Ronny begitu besar. Dia adalah bintang yang sangat dikagumi. Wajar memang. Sebab, pria kelahiran 9 Februari 1949 tersebut sudah malang melintang di banyak klub besar tanah air. Sebut saja PSM Makassar, Warna Agung, dan Tunas Inti. Ronny juga lama berkostum merah putih, seragam tim nasional (timnas) Indonesia.
Dia berkostum timnas sejak akhir 1970-an hingga pertengahan 1980-an. Di timnas, dia turut menyumbangkan dua medali perak di SEA Games 1979 dan 1981.
"Karismanya begitu besar di lapangan. Saya pertama bertemu beliau pada SEA Games 1979, ketika saya berusia 17 tahun. Beliau benar-benar luar biasa," tutur Fandi Ahmad, pelatih Pelita Jaya asal Singapura.
Gelar individu juga beberapa kali direngkuh Ronny. Dia pernah masuk dalam jajaran All Star Asia pada 1982. Bapak tiga anak tersebut juga dua kali dinobatkan sebagai olahragawan terbaik nasional pada 1976 dan 1981. Di kompetisi Galatama, Ronny juga pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik pada 1979 dan 1980.
Saat melanjutkan karir sebagai pelatih, Ronny pun tetap akrab dengan prestasi. Yang pernah ditorehkan bersama Petrokimia Gresik misalnya. Tim asal Kota Pudak itu pernah dibawanya meraih juara di Surya Cup, Petro Cup, serta menjadi runner-up Tugu Muda Cup.
"Beliau memang sosok orang tua yang mampu mengayomi. Saya dan teman-teman di timnas sering mendapatkan masukan-masukan berarti dari beliau. Benar-benar orang bola yang tahu dan mengerti bola," puji Firman Utina, gelandang timnas Indonesia. (fim/diq)
Biodata
Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: Makassar, 9 Februari 1949
Karir Pemain
- PSM Makassar Junior (1966)
- PSM Makassar (1968-1976)
- Tim Nasional (1979-1985)
- Warna Agung (1978-1982)
- Tunas Inti (1982)
Karir Pelatih
- Persiba Balikpapan
- Krama Yudha Tiga Berlian
- Persita Tangerang
- Petrokimia Gresik
- Makassar Utama
- Persitara Jakarta Utara
- Persija Jakarta
Lain-lain: Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007
Prestasi
- Pemain: Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)
- Pelatih: Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup
Di jagat sepak bola Indonesia, nama Ronny begitu besar. Dia adalah bintang yang sangat dikagumi. Wajar memang. Sebab, pria kelahiran 9 Februari 1949 tersebut sudah malang melintang di banyak klub besar tanah air. Sebut saja PSM Makassar, Warna Agung, dan Tunas Inti. Ronny juga lama berkostum merah putih, seragam tim nasional (timnas) Indonesia.
Dia berkostum timnas sejak akhir 1970-an hingga pertengahan 1980-an. Di timnas, dia turut menyumbangkan dua medali perak di SEA Games 1979 dan 1981.
"Karismanya begitu besar di lapangan. Saya pertama bertemu beliau pada SEA Games 1979, ketika saya berusia 17 tahun. Beliau benar-benar luar biasa," tutur Fandi Ahmad, pelatih Pelita Jaya asal Singapura.
Gelar individu juga beberapa kali direngkuh Ronny. Dia pernah masuk dalam jajaran All Star Asia pada 1982. Bapak tiga anak tersebut juga dua kali dinobatkan sebagai olahragawan terbaik nasional pada 1976 dan 1981. Di kompetisi Galatama, Ronny juga pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik pada 1979 dan 1980.
Saat melanjutkan karir sebagai pelatih, Ronny pun tetap akrab dengan prestasi. Yang pernah ditorehkan bersama Petrokimia Gresik misalnya. Tim asal Kota Pudak itu pernah dibawanya meraih juara di Surya Cup, Petro Cup, serta menjadi runner-up Tugu Muda Cup.
"Beliau memang sosok orang tua yang mampu mengayomi. Saya dan teman-teman di timnas sering mendapatkan masukan-masukan berarti dari beliau. Benar-benar orang bola yang tahu dan mengerti bola," puji Firman Utina, gelandang timnas Indonesia. (fim/diq)
Biodata
Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: Makassar, 9 Februari 1949
Karir Pemain
- PSM Makassar Junior (1966)
- PSM Makassar (1968-1976)
- Tim Nasional (1979-1985)
- Warna Agung (1978-1982)
- Tunas Inti (1982)
Karir Pelatih
- Persiba Balikpapan
- Krama Yudha Tiga Berlian
- Persita Tangerang
- Petrokimia Gresik
- Makassar Utama
- Persitara Jakarta Utara
- Persija Jakarta
Lain-lain: Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007
Prestasi
- Pemain: Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)
- Pelatih: Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup
Profil Bintang

Postur kurus kerempeng dan tinggi menjulang yang dimiliki Bokay Eddie Foday kurang ideal untuk ukuran pesepak bola profesional. Kala pertama kali menukangi Persiwa di awal musim, Suharno sempat meragukan kemampuan striker kelahiran Monrovia, Liberia, 28 Mei 1986 yang telah tiga musim membela panji The Highlander itu.
Pandangannya baru berubah saat menyaksikan Bokay beraksi di lapangan. "Dia memang striker bagus," puji Suharno. Selengkapnya
Berada di posisi belakang bukan berarti punya peluang sedikit untuk mencetak gol. Itu telah dibuktikan oleh seorang Aun Carbiny. Stopper PSMS ini kembali jadi pahlawan kemenangan PSMS.
Pemain 24 tahun tersebut menjadi pencetak gol tunggal Ayam Kinantan saat mengalahkan VB Sport dalam lanjutan penyisihan AFC Cup Gru G.
Selain memuluskan langkah PSMS ke 16 besar, dengan gol itu pula, Selengkapnya
Pandangannya baru berubah saat menyaksikan Bokay beraksi di lapangan. "Dia memang striker bagus," puji Suharno. Selengkapnya
Berada di posisi belakang bukan berarti punya peluang sedikit untuk mencetak gol. Itu telah dibuktikan oleh seorang Aun Carbiny. Stopper PSMS ini kembali jadi pahlawan kemenangan PSMS.Pemain 24 tahun tersebut menjadi pencetak gol tunggal Ayam Kinantan saat mengalahkan VB Sport dalam lanjutan penyisihan AFC Cup Gru G.
Selain memuluskan langkah PSMS ke 16 besar, dengan gol itu pula, Selengkapnya
Berita Terbaru
RSS/Search
Liga Super
| P | W | D | L | GD | PTS | |
| PERSIPURA | 22 | 14 | 4 | 4 | 46-15 | 46 |
| SRIWIJAYA | 23 | 13 | 5 | 5 | 49-28 | 44 |
| PERSIJA | 21 | 13 | 3 | 5 | 44-24 | 42 |
| PERSIJAP | 24 | 11 | 7 | 6 | 31-22 | 40 |
| PERSIB | 21 | 11 | 6 | 4 | 34-22 | 39 |
| PERSIWA | 22 | 12 | 2 | 8 | 29-27 | 38 |
| PERSIK | 22 | 11 | 4 | 7 | 34-29 | 37 |
| PSM | 23 | 9 | 8 | 6 | 25-25 | 35 |
| PERSELA | 22 | 10 | 4 | 8 | 26-21 | 34 |
| PELITA | 23 | 8 | 6 | 9 | 23-20 | 30 |
| AREMA | 22 | 9 | 3 | 10 | 25-29 | 30 |
| PERSIBA | 22 | 7 | 6 | 9 | 20-25 | 27 |
| PERSITARA | 23 | 5 | 7 | 11 | 26-35 | 22 |
| PERSITA | 24 | 5 | 6 | 13 | 16-41 | 21 |
| DELTRAS | 22 | 4 | 6 | 12 | 15-30 | 18 |
| PKT | 22 | 4 | 6 | 12 | 21-39 | 18 |
| PSMS | 23 | 2 | 11 | 10 | 23-33 | 17 |
| PSIS | 23 | 3 | 8 | 12 | 13-35 | 17 |
Divisi Utama
Wilayah I
Wilayah II
| P | W | D | L | GD | PTS | |
| PERSISAM | 19 | 11 | 5 | 3 | 37-18 | 38 |
| PERSIKAB | 21 | 11 | 3 | 7 | 35-27 | 36 |
| PERSIKABO | 21 | 9 | 7 | 5 | 32-22 | 34 |
| MITRA KUKAR | 19 | 11 | 1 | 7 | 19-16 | 34 |
| SEMEN PADANG | 21 | 8 | 8 | 5 | 36-23 | 32 |
| PERSIRAJA | 21 | 9 | 4 | 8 | 24-27 | 31 |
| PERSIKAD | 21 | 8 | 4 | 9 | 25-33 | 28 |
| PSDS | 21 | 8 | 3 | 10 | 18-24 | 27 |
| PERSIH | 21 | 7 | 5 | 9 | 26-28 | 26 |
| PSSB | 21 | 6 | 6 | 9 | 20-19 | 24 |
| PSAP | 21 | 7 | 3 | 11 | 22-28 | 24 |
| PERSIBAT | 21 | 7 | 1 | 13 | 20-33 | 22 |
| PERSIKOTA | 21 | 5 | 6 | 10 | 22-37 | 21 |
| PSP | 21 | 3 | 4 | 14 | 14-30 | 13 |
Wilayah II
| P | W | D | L | GD | PTS | |
| PERSEBAYA | 18 | 13 | 1 | 4 | 32-12 | 40 |
| PERSEMA | 18 | 13 | 1 | 4 | 33-20 | 40 |
| PERSIBOM | 20 | 12 | 1 | 7 | 28-16 | 37 |
| PERSIBA Bantul | 19 | 11 | 4 | 4 | 21-12 | 37 |
| PERSIGO | 20 | 10 | 1 | 9 | 25-21 | 31 |
| PERSEMAN | 19 | 9 | 2 | 8 | 20-19 | 29 |
| PERSIBO | 19 | 8 | 4 | 7 | 22-19 | 28 |
| PSIR | 20 | 7 | 6 | 7 | 17-19 | 27 |
| PSS | 19 | 6 | 6 | 7 | 18-26 | 24 |
| PERSIKU | 20 | 6 | 4 | 10 | 16-28 | 22 |
| GRESIK UNITED | 19 | 5 | 4 | 10 | 15-21 | 19 |
| PSIM | 20 | 5 | 2 | 13 | 14-25 | 17 |
| PERSIS | 19 | 4 | 4 | 11 | 15-22 | 13 |
| PERSEKABPAS | 18 | 3 | 4 | 11 | 10-26 | 13 |
Liga Super U21
Wilayah I
Wilayah II
Wilayah III
| P | W | D | L | GD | PTS | |
| PELITA JY U21 | 6 | 5 | 1 | 0 | 17-2 | 16 |
| PERSITA U21 | 6 | 3 | 2 | 1 | 7-5 | 11 |
| SRIWIJAYA U21 | 6 | 3 | 0 | 3 | 7-7 | 9 |
| PSMS U21 | 6 | 1 | 3 | 2 | 10-13 | 6 |
| PERSIJA U21 | 6 | 1 | 1 | 4 | 4-8 | 4 |
| PERSITARA U21 | 6 | 1 | 1 | 4 | 4-14 | 4 |
Wilayah II
| P | W | D | L | GD | PTS | |
| PERSIK U21 | 6 | 4 | 2 | 0 | 9-4 | 14 |
| PERSIB U21 | 6 | 3 | 3 | 0 | 7-3 | 12 |
| PERSELA U21 | 6 | 3 | 0 | 3 | 7-7 | 9 |
| PERSIJAP U21 | 6 | 2 | 1 | 3 | 7-7 | 7 |
| AREMA U21 | 6 | 2 | 1 | 3 | 7-10 | 7 |
| PSIS U21 | 6 | 0 | 1 | 5 | 3-9 | 1 |
Wilayah III
| P | W | D | L | GD | PTS | |
| PERSIPURA U21 | 6 | 4 | 1 | 1 | 12-6 | 13 |
| PERSIBA U21 | 7 | 3 | 3 | 1 | 5-3 | 12 |
| PSM U21 | 6 | 3 | 2 | 1 | 6-4 | 11 |
| DELTRAS U21 | 7 | 1 | 3 | 3 | 5-10 | 6 |
| PKT BTG U21 | 7 | 1 | 2 | 4 | 7-9 | 5 |
| PERSIWA U21 | 5 | 1 | 1 | 3 | 4-7 | 4 |
Top Skor
Liga Super
Divisi Utama
Liga Super U21
Copa Indonesia
Divisi Utama
Liga Super U21
Copa Indonesia













